Pengelolaan Kesehatan Tanaman Padi

Pagi makan nasi, siang makan nasi, malam pun makan nasi. seperti itulah ilustrasi yang menggambarkan kalau nasi adalah makanan pokok hampir seluruh masyarakat indonesia. Saya yakin juga kalau kita semua tahu kalau nasi berasal dari beras yang merupakan hasil dari tanaman padi.  

Sebagai makanan pokok, upaya - upaya  untuk peningkatan produksi terus dilakukan. Akan tetapi, upaya peningkatan produksi beras saat ini terganjal oleh berbagai kendala, salah satu faktor menurunnya hasil produksi beras adalah hama dan penyakit padi [1]

Hamparan Tanaman Padi - Dokumentasi Pribadi

Usaha pengendalian hama penyakit secara konvensional dengan menggunakan pestisida tidak menunjukkan hasil yang efektif dan efisien. penggunaan pestisida yang sejatinya adalah racun memiliki beresiko besar terhadap kesehatan dan lingkungan hidup [2]. Oleh karena itulah, penerapan pengelolaan kesehatan tanaman ( PKT ) atau manajemen pengelolaan tanaman harus segera dilaksanakan. 

Seperti yang dikatakan Cook ( 2000 ) dalam Inawati ( 2016 )[3] pengelolaan kesehatan tanaman atau manajemen pengelolaan kesehatan merupakan sebuah pemahaman yang didasarkan ilmu pengetahuan dan tindakan praktis untuk memahami dan mengatasi faktor-faktor pembatas tanaman baik yang bersifat biotik maupun abiotik sehingga tanaman mampu mengeluarkan potensi genetiknya secara optimal.

PKT sendiri dibagi menjadi 3 bagian yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. persiapan sendiri meliputi pengumpulan informasi mulai dari syarat tumbuh tanaman, karakteristik tanaman, OPT, kondisi abiotik, karakter lahan dan metode - metode yang akan digunakan. 

Contoh Benih Tanaman Padi - Dokumentasi Pribadi

Pelaksanaan PKT padi dimulai dengan pemilihan benih berkualitas tinggi dan memiliki ketahanan. Seperti varietas Inpari 32 HDB tahan terhadap HDB ras III, serta agak tahan terhadap penyakit HDB ras IV dan VIII; Inpari 33 tahan terdapat 3 biotipe WBC dan agak tahan terhadap penyakit kresek serta patah leher (blas daun), Inpari 43 Agritan GSR dengan ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III, agak tahan terhadap hawar daun strain IV dan VIII, tahan terhadap blas daun ras 073 dan 133, dan agak tahan blas daun ras 033 [4].

Pelaksanaan PKT dilanjutkan dengan pengolahan, sanitasi dan pemupukan. Lahan terlebih dahulu diairi sampai tergenang lalu diolah dengan bajak. Lahan dibajak sebanyak dua kali di mana setelah bajak pertama dilakukan penggenangan selama satu minggu kemudian dilakukan pembajakan kedua dan digenangi lagi selama satu minggu agar terbentuk pelumpuran. Kemudian digaru dan dibuat saluran sekeliling dan ditengah sawah [5], penggenangan serta pembajakan merupakan bentuk pengendalian hama penggerek batang padi karena dapat membunuh larva dan pupa hama serta mengurangi peluang peletakan telur ngengat [6]

Pengolahan Lahan - Dokumentasi Pribadi

Sanitasi atau eradikasi gulma pada lahan dan sekitar lahan perlu dilakukan untuk menurunkan populasi hama dan penyakit. Jenis gulma  potensial sebagai sumber inokulum, yaitu Cyperus rotundus, Cyperus iria, Fimbristylis miliacea, dan Echinochloa colonum. Terdapat indikasi bahwa eradikasi gulma sebelum dan setelah ditanam dapat menekan populasi wereng hijau dan penularan virus tungro [7]

Pemupukan secara berimbang selain menyuburkan tanaman , dapat digunakan sebagai upaya dalam pengendalian serangan penyakit blas. Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi [8].

Persemaian dilakukan dengan dua cara yakni persemaian basah langsung di sawah dan persemaian kering dalam wadah baik wadah plastik maupun daun pisang atau wadah lainnya seperti upih. Persemaian benih menggunakan benih unggul yang memiliki ketahanan serta memiliki potensi yang tinggi, menggunakan varietas unggul akan lebih menguntungkan karena benihnya bermutu tinggi sehingga akan lebih kokoh [5].

Persemaian Kering Tanaman Padi - Dokumentasi Pribadi

Pemilihan waktu tanam juga merupakan bagian dari pelaksanaan PKT tanaman padi. jadwal penanaman sangat dianjurkan serempak, jadwal tanam yang tidak serentak membuat siklus hama tidak terputus sehingga merugikan bagi petani, tidak terputusnya siklus hama ini juga mengakibatkan serangan dan populasi hama meningkat [9]

Waktu tanam juga disesuaikan dengan kondisi serta keberadaan air apabila padi kekurangan air pada saat dibutuhkan maka akan mengganggu kesehatan tanaman. 

Penanaman Bibit Padi - Dokumentasi Pribadi

Jarak tanam mempengaruhi kesehatan tanaman, jarak tanam yang baik menggunakan sistem jajar legowo karena memiliki dampak atau efek dimana tanaman cukup mendapat suplai nutrisi, air dan sinar matahari. Dengan demikian akan mengakibatkan proses fotosintesis berlangsung optimal dan tanaman tumbuh dengan sehat [10].

Pengairan air pada tanaman padi disesuaikan dengan usia atau fase dari tanaman padi itu sendiri, kebutuhan air konsumtif dipengaruhi oleh jenis dan umur tanaman ( fase pertumbuhan tanaman ). Pada saat tanaman mulai tumbuh, nilai kebutuhan air konsumtif meningkat sesuai pertumbuhannya dan mencapai maksimum pada saat pertumbuhan vegetasi maksimum. Setelah mencapai pertumbuhan maksimum, nilai kebutuhan air konsumtif akan menurun sejalan dengan pematangan biji [11], dengan tersedianya air saat dibutuhkan maka tanaman akan tumbuh sehat. 

Pengairan Lahan Padi Sawah - Dokumentasi Pribadi

Pengelolaan air ini juga dapat digunakan untuk mengatasi hama keong, dapat dengan pengeringan lahan sementara dan mengambil keong beserta telur keong dari lahan secara manual [12] atau membuat parit di sekitar persawahan, sehingga keong mas akan mengumpul pada parit-parit tersebut dan mudah untuk diambil [13].

Pengeringan Sementara Lahan - Dokumentasi Pribadi

Pelaksanaan pengelolaan hama penyakit dan gulma diawali dengan kegiatan monitoring atau pengamatan. monitoring hama dan penyakit merupakan cara untuk mengumpulkan data dan informasi tentang keadaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), serangan dan musuh alaminya di lapangan, sekaligus diperlukan untuk mengumpulkan data yang akan dimanfaatkan sebagai bahan pelaporan, evaluasi, dan perencanaan [14].

Pelaksanaan pengelolaan hama penyakit dan gulma dalam rangka pengelolaan kesehatan tanaman menggunakan konsep PHT yang dapat dilakukan secara kultur teknik, mekanik dan budidaya. Adapun hama penting seperti keong mas, walang sangit, wereng cokelat, penggerek batang padi putih; penyakit penting antara lain seperti penyakit HDB atau kresek, dan blast; untuk gulma potensial tanaman padi antara lain rumput dan tekian.

Hama Penting Tanaman Padi

Salah satu cara pengelolaan hama penting seperti keong mas dapat dilakukan dengan cara menciptakan area persawahan dalam kondisi macak - macak, karena dapat mengurangi populasi dan serangan hama keong mas [15]. Untuk kasus hama walang sangit, dapat dilakukan dengan cara melakukan pembersihan rerumputan sekitar tanaman padi yang merupakan tempat walang sangit ketika tanaman padi masih dalam fase vegetatif [2]

Hama wereng cokelat dapat diatasi dengan salah satu cara yaitu dengan pergiliran tanaman ini mampu menghindarkan peningkatan populasi hama wereng [2] serta pemberoan lahan selama 2 bulan  berpengaruh dalam menurunkan populasi hama wereng cokelat [2]. Penggerek batang padi putih dapat dikelola dengan cara pembersihan tanggul tanaman padi dengan pembenaman untuk mengendalikan hama penggerek padi putih yang berdiapause selama musim kemarau [2].

Penyakit Utama Tanaman Padi

Salah satu cara untuk mengendalikan serta mengelola penyakit penting padi seperti penyakit HDB atau kresek dengan cara  pemberian fungi mikoriza arbuskula ( FMA ), pemberian FMA dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit secara terinduksi, sehingga perkembangan penyakit hawar daun bakteri pada padi dapat ditekan oleh FMA [16]

Pada penyakit blas, dapat dikendalikan dengan pemupukan berimbang, Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi [8].

Gulma Potensial Tanaman Padi

Salah satu cara untuk mengendalikan serta mengelola gulma potensial adalah dengan melakukan eradikasi. Jenis gulma  potensial sebagai sumber inokulum, yaitu Cyperus rotundus, Cyperus iria, Fimbristylis miliacea, dan Echinochloa colonum. Terdapat indikasi bahwa eradikasi gulma sebelum dan setelah ditanam dapat menekan populasi wereng hijau dan penularan virus tungro [7].

Pelaksanaan pengelolaan kesehatan tanaman yang terakhir adalah pemanenan, penanganan dan penyimpanan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pemanenan dilakukan dengan tepat waktu dan tepat cara. Waktu panen biasanya tergantung pada varietas padi yang digunakan, Nugraha et al ( 1994 ) dalam Iswari ( 2012 )[17] menyatakan bahwa waktu panen yang tidak tepat bukan karena petani pemilik sawah tidak mengetahui teknik penentuan umur panen, tetapi waktu panen sering ditentukan oleh penderep. 

Kegiatan Pemanenan Tanaman Padi - Dokumentasi Pribadi

Menurut (Choiril Maksum, 2002) dalam Kobarsih ( 2015 )[18] menyatakan bahwa ketidaktepatan dalam penentuan saat panen dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang tinggi dan menurunkan mutu gabah atau berasnya, karena pada umumnya petani lebih suka melihat waktu panen dari penampakan dibandingkan dengan memperhatikan umur tanaman [18].

Banyak sekali metode dalam pemanenan, ada yang secara modern yaitu mekanisasi dan secara tradisional. Sebagai perbandingan terhadap kehilangan hasil, mekanisasi menggunakan mesin Combine Harvester ( CH ) dan secara tradisional menggunakan sabit.

Pemanenan Menggunakan Mesin CH - Dokumentasi Pribadi

Pemanenan menggunakan CH melalui 3 tahap, yaitu Panen dengan combine harvester, lalu Pengeringan dengan flat bed dryer, dilanjutkan Penggilingan modifikasi II dan tahap lain-lain, apabila ditotal kehilangan tiap tahap maka total kehilangan hasil panen sebesar 6.60 % [17]. Pemanenan secara tradisional memerlukan banyak tahapan, mulai dari panen dengan sabit lalu perontokan dengan dibanting, lalu dikeringkan di lantai, penggilingan konvensional dan lain - lain, jika ditotal maka akan mengalami kehilangan sebanyak 21.09 % [17].

Melihat angka tersebut menunjukkan bahwa proses pemanenan serta pasca panen sangat berpengaruh nyata terhadap hasil akhir dari produksi padi. apabila melakukan budidaya dengan benar tapi proses pemanenan dan pasca panen nya salah maka hasilnya pun tidak akan melimpah

Hasil Panen Padi - Dokumentasi Pribadi

Selama belum dipasarkan atau masih dalam kondisi penyimpanan, kontrol mutu perlu dilakukan dengan berpedoman pada standarisasi mutu sehingga dapat meningkatkan nilai jual. Persyaratan mutu gabah meliputi persyaratan kualitatif dan kuantitatif. Persyaratan mutu kualitatif gabah terdiri atas empat karakter, yaitu: 1) bebas hama dan penyakit, 2) bebas dari bau busuk, asam dan bau lainnya, 3) bebas bahan kimia dan sisa pupuk, insektisida, dan fungisida, dan 4) gabah tidak boleh panas [17].

Evaluasi adalah langkah terakhir dalam pengelolaan kesehatan tanaman padi, evaluasi ini berisi tentang penilaian mengenai pelaksanaan - pelaksanaan PKT, apakah sudah sesuai harapan atau tidak. Evaluasi menunjukkan sejauh mana kegiatan telah dilakukan, mengetahui kesalahan-kesalahan apa yang telah dilakukan, kekurangan-kekurangan apa yang didapat, atau malah kemajuan-kemajuan apa yang diperoleh. Hasil data tersebut digunakan sebagai pedoman di masa mendatang.

Sumber : [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] 






DotyCat - Teaching is Our Passion