Negeri Tahu Tempe
Awal tahun 2021, dunia pertanian indonesia dikejutkan dengan berita kedelai khususnya perajin tahu dan tempe. perajin tahu tempe di Indonesia melakukan mogok kerja dari tanggal 1 -3 januari sebagai bentuk protes terhadap pemerintah menuntut menurunkan harga kedelai yang mana sebagai bahan baku utama tahu dan tempe.
Stok kedelai dalam negeri sedang menipis, hal tersebut dikarenakan harga kedelai global yang meningkat. Berdasarkan Cips Indonesia dalam postingan instagram nya [1] menyatakan bahwa kedelai indonesia berasal dari kedelai impor yang mencapai 88.6 % dari total kedelai di Indonesia, sedangkan kedelai lokal baru menyumbang 11.26 % dari total kebutuhan kedelai nasional.
Pandemi telah mengakibatkan naiknya harga kedelai global hingga 35 %,
kenaikan harga kedelai tersebut berdampak pada harga jual produk kedelai
seperti tahu dan tempe.
|
| Tahu Tempe - Health.kompas.com |
Ramai nya kejadian tentang kedelai ini disebabkan pemerintah yang terlalu tergantung pada impor, karena itulah apabila harga global sedang kacau maka indonesia terkena imbasnya. Pemerintah selama ini kurang memperhatikan kondisi kedelai di Indonesia.
Sebagai gambaran, luas wilayah penghasil kedelai tahun 2010 sebesar 660.823 ha sedangkan pada tahun 2017 menurun hingga sebesar 355.799 ha, padahal negara Amerika yang menjadi negara eksportir kedelai indonesia memiliki lahan kedelai sebesar 33.8 Juta ha per tahun 2016 [2]. Dilihat dari luas wilayah kedelai saja, Indonesia sudah kalah jauh dengan Amerika. Oleh karena itu, kedelai terbesar yang ada di Indonesia adalah berasal dari Amerika.
Berikut adalah tabel luas panen kedelai di Indonesia dari 2010 -
2017
|
| Luas Panen Kedelai |
Ironis sebenarnya, tanah indonesia yang di beri kesuburan yang luar biasa malah impor ke negara lain. Lalu apa yang sebenar nya membuat petani kita tidak menanam kedelai ?. Menurut Hira Jhamtani dalam buku Lumbung Pangan menyatakan bahwa petani lokal merasa tak mampu bersaing dengan kedelai impor yang lebih murah [3] .
Harga kedelai tercantum dalam Permendag No. 7 Tahun 2020 [4] yang menyatakan bahwa harga acuan kedelai lokal di petani sebesar 8.500 ( Rp/Kg ) dan kedelai impor sebesar 6.550 ( Rp/Kg ), sedangkan harga acuan kedelai lokal di konsumen ( Harga penjualan ke pengguna ( pengrajin tahu/tempe ) sebesar 9.200 ( Rp/Kg ) dan kedelai impor sebesar 6.800 ( Rp/Kg ).
Alasan lain karena kedelai bukan dianggap tanaman utama seperti padi atau jagung melainkan hanya tanaman selingan, di semua wilayah produksi kedelai di Indonesia, hampir tidak ada petani produsen yang menempatkan kedelai sebagai tanaman utama, seperti halnya petani di Amerika Serikat, Brazil atau Argentina [5].
|
| Pertanian Kedelai - Nusadaily.com |
Untuk mencapai swasembada kedelai bahkan ketahanan kedelai perlu ada nya tindakan ekstensifikasi berupa perluasan lahan pertanian kedelai agar mendapatkan produksi yang tinggi juga, membenahi harga acuan kedelai agar kedelai lokal dapat bersaing di pasaran serta disukai oleh petani, meningkatkan kualitas kedelai dengan teknologi serta inovasi agar kualitas kedelai lokal tidak kalah dengan kedelai impor.
Apakah kalian sebagai konsumen merasakan dampak dari kejadian ini ? apakah tempe dirumah kalian semakin tipis atau bahkan keberadaan nya yang semakin langka ? Jawab di kolom komentar
Ditulis Oleh : Mirza Saputra



3 komentar