Prinsip Pertanian Organik
Pertanian organik adalah bentuk
kejenuhan manusia terhadap pertanian konvensional yang tidak memperhatikan
keseimbangan alam dan hanya mengejar keuntungan semata. Pertanian organik
mulai banyak di terapkan di kehidupan masyarakat, mulai banyak
gerakan-gerakan pertanian organik dunia, khususnya di Indonesia. Pertanian
organik adalah bentuk penerapan dari konsep agroekologis, sebuah konsep yang
didasari oleh keselarasan pertanian dengan lingkungan[1]
.
Pertanian organik menurut
Rachman Sutanto[2] adalah hukum pengembalian, yang memiliki
makna bahwa suatu sistem untuk mengembalikan semua bahan organik ke dalam
tanah, baik dalam residu atau limbah pertanian maupun ternak yang
selanjutnya bertujuan untuk memberikan makanan pada tanaman. Oleh karena
itu, pertanian organik menerapkan prinsip memberi makan kepada tanah,
bukan memberi makan pada tanaman seperti halnya pada pertanian
konvensional.
![]() |
| Petani Indonesia - Kompas |
Bertani
organik mengajarkan petani untuk tidak egois, tetapi harus menyadari bahwa
di antara makhluk hidup saling membutuhkan serta saling terkait[3]
. Contoh sederhananya seperti ini, ketika menghadapi serangan hama, petani
tidak perlu membasmi hama tersebut, karena hama tersebut juga bagian dari
ekosistem, bagian dari lingkungan dan karena hama juga bagian dari ekosistem
maka akan terjadi ketidakseimbangan apabila terjadi pemusnahan hama.
Pemberantasan hama mungkin saja menghasilkan produk pertanian yang mulus,
tanpa cacat, tapi akan meninggalkan residu pada produk karena penggunaan
pestisida yang tinggi
[3]
.
Lalu
bagaimana pertanian organik mengatasi hama? Pertanian organik menggunakan
teknik pengendalian bukan pemberantasan, pengendalian secara alami, seperti
penggunaan varietas tahan, pemanfaatan musuh alami, teknik budidaya, maupun
pestisida nabati dan hayati[3]
. Pengendalian seperti itu bisa saja mengurangi hasil sebesar 10%, tapi
kita telah berbagi sebesar 10% untuk makhluk hidup lainnya.
![]() |
| Ulat Hijau - Egor Kamelev ( Pexels ) |
Apabila
melihat pernyataan sebelum nya, bisa dilihat bahwa yang ditekankan di
pertanian organik bukan lah hasil akhir (end product) tetapi tentang
proses produksi nya, karena pertanian organik atau bisa disebut organis
diartikan sebagai sikap (attitude) atau tingkah laku
(behavior) dari pelaksana kegiatan bertani, yaitu petani.
Pertanian organik tidak dapat memberikan janji bahwa bertani organik akan mendapatkan keuntungan material yang lebih baik, karena pertanian organik bukan hanya soal keuntungan (ekonomi), tetapi faktor lingkungan dan sosial/kesehatan juga merupakan bagian dari pertanian organik[3] . Apabila diibaratkan pertanian organik adalah irisan dari ekonomi, lingkungan dan sosial/kesehatan.
*Keterangan : Artikel ini pernah diposting di medium.com dengan judul Falsafah Pertanian Organik
Ditulis Oleh : Mirza Saputra


Posting Komentar