Tidak Hanya Hewan, Pupuk Subsidi pun Langka

Indonesia terkenal di mata dunia sebagai tempat tinggal para hewan langka, seperti komodo, harimau sumatra, badak bercula satu dan kawan - kawan nya. Akan tetapi, yang dunia tidak ketahui, Indonesia juga memiliki kekayaan yang sangat langka yaitu pupuk subsidi.

Kelangkaan ini tidak terjadi satu dua kali, bahkan berkali - kali setiap tahun, sudah seperti tradisi tahun baru, bahkan tahun baru aja hanya 1 kali setahun. Kelangkaan di sini berarti tidak mudah ditemukan, kalaupun ditemukan pasti jarang. 

Pupuk Subsidi - Dok. Pribadi 

Kelangkaan pupuk subsidi khusus nya pupuk anorganik seperti urea, ZA dan sebangsanya ini memicu protes dari para petani, bagaimana tidak ? pupuk salah satu aktor penting dalam produksi dan produktivitas tanaman, apabila terjadi kelangkaan maka petani hanya bisa pasrah karena tidak mampu membeli pupuk non subsidi yang memiliki harga terlampau mahal.

Baca Juga : Industri Pupuk adalah hasil dari konsep agribisnis, apa itu konsep agribisnis ? 

Melihat kembali lebih jauh, kebijakan pupuk subsidi ini ditujukan untuk menstabilkan harga pupuk anorganik pada tingkat yang dapat di jangkau. Promosi mulai digencarkan oleh pemerintah, dan petani menunjukkan reaksi senada yang diharapkan, berupa meningkatnya penggunaan pupuk anorganik.

Atas dasar itulah kenapa petani saat ini sangat bergantung pada pupuk anorganik terlebih lagi pada pupuk subsidi. Bisa dikatakan bahwa petani seperti bocah yang kecanduan micin, andaikata micin di ganti atau di hapus, akan sangat menyiksa si bocah.


Menebar Pupuk - 8villages

            Pupuk Subsidi ini memiliki alur distribusi yang panjang, walau tak sepanjang kasih ibu. Alur distribusi yang panjang ini mengakibatkan keterlambatan dan kelangkaan yang berpengaruh pada pola tanam, khusus nya pada tanaman padi.

Alur distribusi yang lumrah terjadi melalui 4 Lini, Lini I itu gudang milik pabrik, Lini II itu gudang milik pabrik di ibu kota provinsi, Lini II itu distributor dan Lini IV itu Pengecer atau Kios [2]

Lini IV ini adalah gudang masalah dari alur distribusi ini, karena sebenarnya Lini IV ini tidak memiliki peranan begitu penting, ia hanya berperan sebagai persinggah sementara hingga di jemput oleh petani. Peran Lini IV ini sebenarnya dapat digantikan oleh kelompok tani, karena petani sendiri sudah tergabung dalam kelompok tani sehingga pupuk dapat langsung ke sasaran. model alur ini dipercaya dapat mempercepat pengiriman pupuk subsidi [1].

Bukan saya berniat suudzon, tapi dalam lini IV atau pengecer ini “ kadang “ terjadi malpraktek. Seperti hal nya ada nya peningkatan harga dari HET dengan dalih upah penyimpanan sementara. 

Pupuk Urea - CNBC Indonesia

HET ini adalah Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Kalau HET mengalami peningkatan maka tujuan awal untuk mengatasi beban petani tidak akan terjadi dan hanya akan menyengsarakan petani yang sebagian besar berada di garis kemiskinan, keuntungan dari peningkatan HET hanya akan dinikmati oleh pengecer maupun pedagang.

Kelangkaan ini tidak serta merta ulah pemerintah, petani sendiri juga turut ambil bagian. Kelangkaan terjadi karena pemakaian pupuk subsidi, khusus nya urea melebihi dosis anjuran. Dosis yang dianjurkan pemerintah adalah 250 kg per hektar, tapi dalam praktek nya sebesar 300 - 350 kg per hektar. sehingga apa yang direncanakan akan dikecewakan [1]

Rencana kebutuhan pupuk yang ditetapkan departemen pertanian secara umum lebih rendah dari luas pertanaman sesungguhnya sedangkan permintaan pupuk subsidi melebihi alokasi. Bahasa mudah nya, tiap petani di jatah 1 karung ternyata petani beli nya 2 karung. Rencana dapat berbeda karena rencana dibuat berdasarkan hitungan rumus sedangkan pada real life kenyataannya tidak seperti itu.

Ada juga petani yang menyetok dengan membeli pupuk subsidi untuk selama setahun penuh, dengan tindakan begitu stok pupuk subsidi akan cepat habis dan terjadi kelangkaan.

Walaupun ada kesalahan dari petani saat pelaksanaan pupuk, tidak bisa di pungkiri kesalahan terletak ada di pihak pemerintah. Kelangkaan ini dapat terjadi akibat tidak adanya mata, tidak adanya pengawasan secara berkelanjutan kalau bahasa keren nya. pengawasan berkelanjutan ini di perlukan supaya pengawasan sampai ke tingkat pengecer. 

Pupuk Subsidi - Agroindonesia 

Berita lama pencabutan pupuk subsidi mulai muncul ke permukaan, menurut portal berita [3] hal ini di dipicu akibat subsidi pupuk selalu menimbulkan kegaduhan dan serta subsidi pupuk tidak mendongkrak produksi pertanian khususnya padi. Para wakil kita di sana memilih mengalihkan anggaran subsidi yang selama ini digunakan untuk pupuk dialihkan untuk subsidi harga komoditas pertanian yang dihasilkan petani. 

Perlu diketahui juga, tidak hanya kamu yang menjadi beban, subsidi pupuk seperti ini memberikan beban yang ditanggung pemerintah. Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) yang digunakan untuk membiayai subsidi pupuk, khususnya pupuk anorganik senantiasa permintaan meningkat. 

menurut data dari kementerian keuangan kita, subsidi untuk pupuk tahun 2020 mengalami penurunan, pada tahun 2019 ada anggaran sebesar 34.3 Triliun rupiah menjadi 24.5 Triliun rupiah. Penurunan ini mungkin akibat dari beban berat yang harus ditanggung oleh pemerintah, karena itu pemerintah ingin melegakan bahu.

Inti permasalahan kelangkaan pupuk subsidi adalah alur distribusi yang ruwet bin njlimet, kurang pengawasan secara berkelanjutan, dan data yang tidak lengkap. Masyarakat dan pemerintah harus memiliki jalan yang sama, supaya kelangkaan ini dapat diatasi dan tidak terulang di waktu yang akan datang. Kalau tidak ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat itu sama saja omong kosong. 

Ditulis Oleh : Mirza Saputra

Sumber : [1] [2] [3]

DotyCat - Teaching is Our Passion